Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Standardisasi Mendukung Budaya Inovasi serta Transformasi Bisnis

  • Jumat, 07 Agustus 2020
  • Humas BSN
  • 568 kali

 

Berdasarkan data PwC Projections for 2030 and 2050, Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat dunia pada tahun 2050. Untuk meningkatkan potensi pertumbuhan Indonesia, diperlukan transformasi struktural untuk peningkatan kesejahteraan serta penguatan permintaan domestik dan peningkatan kinerja perdagangan internasional.

Dalam transformasi bisnis, standar berperan dalam meningkatkan efisiensi kerja untuk meningkatkan kualitas produk dan inovasi pengembangan produk. Deputi Bidang Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional (BSN), Zakiyah saat membuka Webinar Inovasi Produk dan Transformasi Bisnis dalam Perspektif Standardisasi pada Jumat (7/8/2020) menjelaskan bahwa dalam inovasi, penerapan standar akan menjamin interoperabilitas antar komponen sehingga menghasilkan penghematan dalam biaya adaptasi.

Manajemen inovasi produk sangat diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan pasar dan memperkuat keunggulan kompetitif. Direktur Eksekutif PPM Manajemen, Bramantyo Djohanputro menyampaikan konsep inovasi “Diamond”. Konsep inovasi “Diamond” memiliki empat komponen yaitu, tentukan arena yang tepat bagi produk yang dikembangkan; membangun iklim positif, budaya, dan kepemimpinan di organisasi; menciptakan tahapan-tahapan untuk merealisasikan ide atau konsep yang ingin dicapai; serta memiliki portofolio manajemen yang efektif. 

Dalam inovasi tentu ada risiko. “Berinovasi menimbulkan risiko, tidak berinovasi lebih berisiko.” ungkap founder Center for Risk Management & Sustainability (CRMS), Antonius Alijoyo. Inovasi bukan sekedar produk atau jasa, namun juga hasil dari culture of innovation itu sendiri yang kemudian menghasilkan produk dan jasa inovatif. “Culture of innovation tidak datang begitu saja. Artinya bukan hanya sekedar rutinitas harian tapi belajar dari kesalahan merupakan dasar inovasi. “Inovasi tidak mungkin terjadi tanpa adanya risk taking element,” jelas Antonius.

Penerapan SNI 8615:2018 ISO 31000:2018 Manajemen Risiko sangat penting dalam kompetensi dan budaya risiko. “Manajemen risiko adalah titik kritis bagi transformasi bisnis yang menjabarkan arah dan memberdayakan hasil inovasi.”ujar Antonius. Manajemen risiko, inovasi, dan transformasi sangat dibutuhkan untuk menciptakan terobosan mulai dari perencanaan strategis hingga implementasi taktis.

Dari sisi pelaku bisnis, Direktur Produksi PT. Petrokimia Gresik, I Ketut Rusnaya menyampaikan mengenai peranan standardisasi dalam transformasi bisnis menuju perusahaan agrobisnis berdaya saing, ada beberapa kondisi yang menyebabkan PT. Petrokimia Gresik bertransformasi, diantaranya unntuk memenuhi target swasembada, adanya ketergantungan subsidi, persaingan semakin ketat, serta harga gas di Indonesia yang relatif tinggi.

Tantangan eksternal tersebut diterjemahkan menjadi strategi bisnis perusahaan diantaranya yaitu proses distribusi yang semakin cepat, meningkatkan daya saing produk, meningkatkan kapasitas untuk memenuhi permintaan pasar, juga efisiensi produksi sebagai antisipasi semakin mahalnya harga gas. “Ada tiga hal yang ditransformasikan di PT. Petrokimia Gresik yaitu menjadi solusi agroindustri, produk unggulan yaitu NPK Cluster, serta digitalisasi,” jelas I Ketut Rusnaya.

Dalam prosesnya, PT. Petrokimia Gresik menerapkan standar yang terbukti berperan penting dalam proses transformasi dan inovasi, PT. Petrokimia Gresik telah mendapatkan sertifikat SNI ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu, SNI ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan dan pada ajang SNI Awards 2019 lalu meraih penghargaan SNI Award Kategori Grand Platinum.

Webinar Inovasi Produk dan Transformasi Bisnis dalam Perspektif Standardisasi yang dimoderatori oleh Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, Heru Suseno berjalan secara interaktif yang memfasilitasi tanya-jawab antara narasumber dengan para peserta. (PjA – Humas)