Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Peningkatan Potensi Ekspor Ikan Hias Indonesia Melalui Standardisasi

  • Rabu, 05 Agustus 2020
  • Humas BSN
  • 1212 kali

 

 

Potensi sumber daya ikan hias nasional akan menjadi nilai strategis bagi Indonesia untuk peningkatan penerimaan negara. Sejak tahun 2012-2019 ekspor ikan hias mengalami peningkatan signifikan dari USD 21 Juta menjadi USD 33 juta. Indonesia selalu menjadi 5 besar pengekspor ikan hias 2010-2018 dan menjadi yang terbesar di dunia pada tahun 2018. Negara-negara tujuan ekspor ikan hias Indonesia diantaranya menuju ke China, Amerika, Rusia, Kanada, Singapura, dan berbagai negara lain.

 

Dalam strategi pembangunan ikan hias di RPJMN 2020-2024 terdapat produksi dan mutu ikan hias, perdagangan dan promosi ikan hias, konservasi spesies dan habitat ikan asli, keterpaduan data dan informasi, juga sosialisasi dan edukasi publik. Pada pelaksanaan strategi tersebut, standar, regulasi teknis, dan penilaian kesesuaian berperan penting dalam meningkatkan daya saing serta nilai tambah.

 

Terdapat 30 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) terkait dengan ikan hias dan perikanan budi daya. Dari 30 standar tersebut, 27 diantaranya masih berlaku dan dapat dimanfaatkan. BSN juga telah menetapkan skema penilaian kesesuaian terkait ikan hias maupun perikanan secara umum berkat kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

 

BSN sangat antusias untuk bekerja sama dengan Kementerian/Lembaga/Pemda untuk pembinaan dan pengembangan standar serta hal-hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan potensi ekspor oleh pelaku usaha, Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK), maupun masyarakat pada umumnya. “Untuk meningkatkan daya saing kita harus bersama-sama. Kementerian, pelaku usaha, masyarakat, dan para pakar, harus bersama-sama untuk meningkatkan potensi ekspor ikan hias kita, hingga kita bisa menjadi pengekspor terbaik dan terbesar,” ungkap Deputi Bidang Penerapan Standar Penilaian Kesesuaian BSN, Zakiyah saat membuka kegiatan Webinar Potensi Ekspor Ikan Hias Endemik Indonesia pada Rabu (5/8/2020) secara online.

 

BSN bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan skema Indonesia Good Agriculture Practices (IndoGAP) ditetapkan oleh Perka BSN. Tujuannya untuk melakukan sertifikasi IndoGAP.

 

Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, Heru Suseno mengungkapkan LPK harus diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Ada beberapa tahapan penting dalam proses sertifikasi produk, proses, dan jasa. Pertama, tahapan seleksi untuk menentukan karakteristik produk dan memastikan konsistensi produk. Kedua, proses review untuk melihat kesesuain hasil determinasi dengan persyaratan sertifikasi. Ketiga, proses atestasi untuk penerbitan atestasi kesesuaian. Ke empat, pemberian lisensi penggunaan tanda. Dan terakhir, proses survailen.

 

Heru juga menyampaikan bahwa BSN bekerjasama dengan K/L/D melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha dan masyarakat. Pembinaan dilaksanakan dengan membangun role model dari Industri Kecil/Menengah.

 

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Widya Rusyanto menyampaikan, “Upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan nilai jual, bukan hanya menambah volume atau jumlah.” BBP3KP Kementerian Kelautan dan Perikanan RI turut berperan dengan menjadi bagian dari Komtek 65-08 produk perikanan non-pangan. Jumlah SNI yang dihasilkan Komtek 65-08 sebanyak 57 SNI yang terdiri dari 13 SNI Ikan Hias, 2 SNI Mutiara, 9 SNI Tanaman Hias, 6 SNI Rumput Laut, 3 SNI Crustacea dan Molusca, 9 SNI Produk Bioteknologi, dan 15 SNI Pengemasan Metode Uji.

 

BBP3KP juga memiliki Raiser Ikan Hias Cibinong sebagai pusat promosi dan pemasaran ikan hias. Tujuan pembangunan raiser ikan hias antara lain sebagai sarana pemasaran, promosi, informasi, Pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, pembesaran, penyeragaman ukuran, peningkatan mutu, penyangga stok/persediaan. BBP3KP di Gedung Raiser mendiseminasi informasi dengan memfasilitasi kontes ikan hias, seminar/workshop/FGD, pameran, eduwisata, dan gerai informasi ikan hias. Dalam kegiatan pemasaran, BBP3KP membina pelaku usaha ikan hias dengan bimbingan teknis pelaku usaha ikan hias, inkubasi bisnis, peningkatan mutu, penyangga stok/persediaan, fasilitasi sarana/prasarana pemasaran dan distribusi, bursa ikan hias, dan konseptor penyusunan RSNI produk perikanan nonpangan/ikan hias. BBP3KP juga mendukung upaya pembentukan Lembaga Sertifikasi Produk untuk ikan hias di Raiser dengan penyewaan ruang kantor di Raiser.

 

Pelaku usaha, Owner CV Lucky Indo Aquatic, Nicky Kusuma menyampaikan pemasaran ikan hias saat ini sudah dapat dilakukan melalui sosial media, selain tentunya melalui pameran ikan hias, kontes-kontes ikan hias, rekomendasi dari Lembaga-lembaga terkait, mengikuti seminar-seminar ikan hias, bergabung dengan asosiasi ikan hias, dan melalui penjualan online.

 

Ada beberapa jenis ikan endemik andalan Indonesia. Ikan endemik Indonesia yang menjadi best-seller adalah jenis Botia/Clown loach. Ikan ini berasal dari perairan pedalaman di pulau Sumatra dan Kalimantan. Ikan ini popular dalam perdagangan akuarium air tawar dan dijual di seluruh dunia. Ada pula ikan tiger fish/Datnioides microlepis yang merupakan ikan predator di perairan air tawar Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Ada juga ikan Ketang-Ketang/Scat yang berasal dari perairan Indo-Pasifik (Kuwait, Fiji, Jepang) yang bermuara di laut. Bibit ikan ini tersedia di Merauke dan dapat dirubah menjadi ikan air tawar dengan perawatan berkala. Kemudian, ada juga Asian Arowana/Scleropages formosus yang populasinya sudah langka, dan berbagai jenis ikan lainnya yang sangat diminati oleh negara-negara tetangga. “Indonesia memiliki peluang bisnis ekspor ikan hias yang sangat besar. Banyak spesies yang kita bisa ekspor dari Indonesia. Sayangnya kita kurang eksplorasi dan research untuk budidaya,” ungkap Nicky.

 

Kegiatan Webinar Potensi Ekspor Ikan Hias Endemik Indonesia yang dimoderatori oleh Kepala Subdirektorat Pengembangan Standar Lingkungan, Kehutanan, Perikanan, dan Kelautan BSN, Rosalia Surtiasih ini diikuti oleh 500 peserta dan disiarkan melalui laman Youtube dan Facebook BSN. (put – Humas)