Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

SNI Battery Swap Mendukung Kemajuan Kendaraan Listrik Indonesia

  • Minggu, 14 Juni 2020
  • Humas BSN
  • 515 kali

 

Potensi ekspor produk otomotif Indonesia diproyeksi akan terus meningkat, untuk itu industri perlu untuk  terus mengkinikan produknya sesuai perkembangan yang terjadi di dunia. Salah satunya adalah perkembangan kendaraan listrik. Adapun kendaraan listrik memerlukan daya penggerak dari baterai, dan terdapat berbagai macam teknologi baterai yang dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk kemajuan industri otomotif. Sehingga dapat dikatakan bahwa baterai adalah titik strategis dari perkembangan industri otomotif sekaligus menciptakan pasar tersendiri bagi Indonesia untuk mengekspor baik produk baterai maupun komponen penyusun baterai.

Pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk battery swap menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Sistem Battery Swap untuk Kendaraan Listrik Kategori L yang diselenggarakan secara online oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada Jumat (12/6/2020). Acara dimoderatori oleh Direktur Pengembangan Standar Mekanika, Energi, Elektroteknika, Transportasi, dan Teknologi Informasi (MEETTI) BSN – Y. Kristianto Widiwardono.

Salah satu dari kategori baterai adalah battery swap, yang tercantum di Perpres No. 55 Tahun 2019 khususnya di Bab 3 Pasal 17F mendefinisikan yaitu penyewaan baterai, sehingga perlu dicermati untuk pengembangan standar dimaksud. Dengan adanya Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik berbasis baterai tersebut, maka tantangannya adalah dari sisi kapasitas baterai dan waktu pengisiannya. Ada dua pilihan yang dapat dikaji terlebih dahulu, pertama mengenai penggunaan fast charging, kedua tentang penggunaan battery swap. “BSN bertugas mengembangkan standarnya, dan keduanya akan disiapkan BSN,” demikian diungkapkan oleh Deputi Pengembangan Standar BSN, Nasrudin Irawan saat membuka kegiatan FGD.

Peta standar terkait kendaraan listrik, terbagi menjadi dua yaitu untuk mobil dan sepeda motor. Dari dua pilihan tersebut didefinisikan menurut kategori, pertama adalah sistem kendaraan yang terdiri dari keselamatan dan performa yang mana SNI-nya sudah tersedia. Kedua adalah komponen kendaraan yang terdiri dari baterai dan komponen penggerak listrik (motor, inverter & converter) dengan status ada yang dalam proses pengembangan standar, ada pula yang sudah tersedia SNI-nya. Ketiga mengenai infrastruktur, disini terdapat sistem charging dan konektor charging. “FGD ini membahas dari sisi sistem charging-nya yaitu battery swap,” jelas Nasrudin

Sementara itu, President of National Battery Research Institute, Evvy Kartini dalam FGD mempresentasikan mengenai studi kasus sistem battery swap untuk kendaraan listrik khususnya untuk kategori L (kendaraan roda dua). National Battery Research Institute (NBRI) hadir dari konsorsium baterai yang dibentuk beberapa tahun lalu. Banyak hal yang perlu dilakukan menyangkut baterai, karena baterai mencakup banyak hal termasuk keamanan konsumen. Hasil audiensi NBRI dengan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro beberapa waktu yang lalu, sangat mendukung NBRI menjadi bagian dari Prioritas Riset Nasional (PRN).

Evvy menjelaskan, “Periset baterai ada di seluruh dunia, sehingga penting untuk terus menjalin komunikasi untuk saling berbagi informasi terkini dari perkembangan baterai yang ada.” NBRI diluncurkan pada tahun 2019 bertepatan dengan acara sebuah Konferensi International Advance Material Technology di Bogor, Jawa Barat. “Saat ini NBRI menjadi konsorsium nasional di bidang baterai, sehingga para pelaku industri hingga periset dapat bergabung disini,” jelas Evvy.

Program Making Indonesia 4.0 segala sesuatunya membutuhkan baterai dari otomotif sampai barang-barang elektronik lainnya. Sampai saat ini yang digunakan untuk operasional semua itu adalah jenis Li-ion battery. Kedepannya Indonesia akan memiliki kemandirian produksi baterai. Adapun, jenis-jenis Li-ion battery adalah Lithium-nickel-cobalt-aluminum (NCA); Lithium-nickel-manganese-cobalt (NMC); Lithium-manganese spinel (LMO); Lithium titanate (LTO); serta Lithium-iron phosphate (LFP). Battery swap sendiri memiliki pengertian seperti beli ‘isi ulang’ daya baterai. “Kita perlu memutuskan terlebih dahulu ukuran battery swap yang akan digunakan di Indonesia agar terealisasi satu ukuran baterai untuk semua jenis kendaraan atau one for all,” pungkas Evvy.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin dan Ketua Komite Teknis 43-02 Kendaraan Jalan Raya Bertenaga Listrik, Putu Juli Ardika menyampaikan presentasi tentang  gambaran umum otomotif industri nasional serta kebijakan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di kesempatan acara yang sama. “Indonesia memiliki basis pasar untuk mengembangkan industri otomotif, dari 1000 orang, 87 orang diantaranya memiliki kendaraan, sehingga pasarnya terus berkembang yang menjadi basis pengembangan kendaraan listrik,” jelas Putu.

Ada dua bahan baku untuk membuat battery cell, yaitu dari recycle maupun pengolahan metalurgi. Perkembangan pengolahan raw material untuk baterai, menurut informasi yang ada diestimasikan dalam 2 bulan mendatang Indonesia segera akan memiliki bahan baku baterai sendiri. Saat ini sudah banyak pihak yang berniat untuk berinvestasi untuk produksi battery cell, sehingga Indonesia sudah membuat partner untuk kerja sama dengan konsorsium dari luar negeri. Konsorsium dimaksud dibagi menjadi dua, yaitu dalam negeri dan luar negeri. “Komite Teknis (Komtek) 43-02 telah menyusun peta jalan untuk kendaraan bermotor listrik, dan pengembangan konsep battery swap dikordinasikan antara Komtek 43-02 dengan Pelaku Industri,” jelas Putu.

Berikutnya adalah Senior VP Research and Technology Center PT. Pertamina (Persero), Dadi Sugiana memberikan pandangan umum dari perwakilan pelaku industri. “PT. Pertamina (Persero) sejak tahun 2012 sudah merubah visinya menjadi perusahaan energi, bukan lagi perusahaan oil & gas. New & renewable energy dan industri baterai, serta petrokimia akan membawa peran yang lebih banyak kepada Pertamina. Pertamina berikutnya akan masuk ke industri baterai yang mana bagi Pertamina baterai adalah sebuah produk strategis. Sehingga Pertamina mendiversifikasi portofolio bisnis untuk menghadapi transisi energi, dari oil & gas ke pemenuhan energi yang lebih luas, seperti renewable, baterai, petrokimia, dan lain-lain.” Jelas Dadi

Dadi menjelaskan bahwa baterai pertumbuhan permintaannya sungguh luar biasa, saat ini di dunia terdapat pabrik dengan kapasitas total 200 GWh, diperkirakan di tahun 2030 mendatang berpotensi menjadi 5 kali lipat lebih besar atau mencapai 1 Juta GWh. Diproyeksikan, apabila Indonesia mendapat permintaan baterai sebesar 1 juta GWh, maka konsumsi baterai Indonesia pada tahun 2030 diproyeksikan sebesar 10 juta GWh.  Sumber Daya Alam Indonesia memiliki kandungan Nikel yang relatif tinggi yang menjadikan Indonesia sebagai produsen Nikel terbesar di dunia atau diproyeksikan produksi sebesar 400.000 ton per tahun. Dalam rangka memproduksi baterai 10 GWh hanya memerlukan 12.000 ton Nikel atau hanya 5% - 10% dari produksi Nikel Indonesia per tahun untuk memenuhi konsumsi baterai di Indonesia. Sehingga, Nikel berperan penting untuk eksplorasi lebih lanjut kekuatan ekspor baterai Indonesia.

“Dalam kurun waktu 2027 – 2030 kendaraan listrik diperkirakan akan memiliki harga lebih murah dibandingkan kendaraan internal combustion engine. Dari sisi konsumen, battery swap memiliki banyak keunggulan, diantaranya waktu, harga dari kendaraan listriknya, dan jika kebijakan battery swap ini diterapkan bisa mempercepat penetrasi pasar kendaraan listrik. Pertamina saat ini menunggu standardisasi battery pack, yang akan memudahkan produksi battery pack sekaligus memberikan efisiensi dan lebih ekonomis” Sebut Dadi

Battery swap system harus didesain dan dibuat dengan meminimilasi bahaya terhadap pengguna, peralatan, dan lingkungannya. Identifikasi bahaya seperti api, ledakan, pecah, dan lain-lain, mengutip presentasi dari Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kemenperin, Susanto Sigit Rahardi mengenai penilaian kesesuaian battery swap system dari aspek keselamatan.

Susanto Sigit Rahardi menyambung, diharapkan sertifikasi produk battery swap sampai kepada proses inspection. Karena untuk memeriksa proses-proses kritis yang ada di pabrik, komponen-komponen safety dapat dibuktikan oleh perusahaan, layak untuk digunakan. Harapannya, UMKM lokal dapat berpartipasi untuk merakit battery swap dan proses research, development and demonstration (RD &D) mendapat tempat pada sertifikasi produk dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Perwakilan Teknisi dari Underwriters Laboratories (UL) Taiwan Co., Ltd, Liang Alex turut berpartisipasi dalam FGD yang membawakan materi berkaitan dengan penilaian kesesuaian untuk battery swap e-Scooter dari perspektif Taiwan. Saat ini di Taiwan sudah terdapat produk skuter elektrik yang menggunakan battery swap dengan daya 1.6 KWh atau dengan kemampuan jelajah sejauh 170 km. Liang mengatakan kunci sukses produk skuter elektrik yang dinamai Gogoro ini adalah penggunaan battery swap dan ketersediaan stasiun battery swap itu sendiri. Kelebihan battery swap yang digunakan Gogoro adalah penggantian baterai yang hanya membutuhkan waktu sekitar 6 detik per baterai dan adanya stasiun setiap 2 km di dalam kota, setiap 15 km di daerah sub urban.

“Standar battery swap Gogoro berasal dari CNS 15424-1:2015 – Electric Motorcycles Battery System – Part 1: The Safety Requirements of Removable Battery System dan CNS 15387:2015 – Safety Testing Method for Secondary Lithium Batteries for Electric Motorcycles” Jelas Liang Alex. Kedepannya, bus elektrik melanjutkan kesuksesan skuter elektrik di Taiwan karena adanya ketersediaan infrastruktur pendukung, seperti stasiun bis untuk penggantian baterai. Lanjut Liang Alex.

FGD yang mengundang perwakilan dari pemerintah, kemudian dari Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK), Lembaga Riset, serta Pelaku Usaha ini masih dapat disaksikan di kanal YouTube BSN_SNI dan Facebook Badan Standardisasi Nasional. Diharapkan FGD ini bisa memberikan gambaran lengkap guna pengembangan standar mengenai battery swap. (PjA – Humas).