Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Harmonisasikan Pengukuran pH di Indonesia, SNSU-BSN Sosialisasikan Panduan Pengukuran pH dengan Teknik Kalibrasi Dua Titik

  • Kamis, 07 Desember 2023
  • Humas BSN
  • 767 kali

Pengukuran keasaman atau kebasaan suatu larutan (pH) merupakan salah satu pengukuran yang sangat penting dan banyak dilakukan dalam berbagai bidang aplikasi. Pengukuran pH yang dilakukan dengan prosedur yang benar, akan memberikan hasil yang akurat

“Pengukuran, kalibrasi dan pengujian dapat dilaksanakan dengan tepat menggunakan metode yang tepat sehingga memberikan informasi yang akurat. Pengukuran pH yang tepat dibutuhkan dalam berbagai bidang seperti industri, kesehatan, makanan, pertanian, dan juga lingkungan,” demikian disampaikan Direktur Standar Nasional Satuan Ukuran Termolektrik dan Kimia (SNSU TK) Badan Standardisasi Nasional (BSN), Ghufron Zaid pada Webinar Sosialisasi “Panduan Pengukuran pH dengan Teknik Kalibrasi Dua Titik” pada Selasa (5/12/2023) yang dilaksanakan secara daring.

Oleh karena itu, tambah Ghufron, BSN melalui Direktorat SNSU TK perlu mengharmonisasikan pengukuran pH, khususnya dengan teknik kalibrasi dua titik yang dilakukan di laboratorium pengujian maupun institusi lain yang berkepentingan dengan pengukuran pH yang perlu dijamin keabsahannya.

Saat ini, BSN melalui Direktorat SNSU TK telah menyusun Panduan Pengukuran pH dengan Teknik Kalibrasi Dua Titik.

Metrolog Ahli Muda BSN, Ayu Hindayani dalam kesempatan ini menjelaskan bahwa Panduan tersebut disusun berdasarkan standar internasional, standar nasional, sumber ilmiah lainnya, pembahasan di internal SNSU TK, serta masukan dari para ahli di bidangnya.

Panduan ini berisi mengenai prinsip kerja pH meter; prosedur kalibrasi pH meter dengan teknik kalibrasi dua titik; prosedur pengukuran pH larutan sampel; cara estimasi ketidakpastian pengukuran pH; serta pemeliharaan elektroda.

“Pemeliharaan elektroda merupakan hal penting dan kadang terlupakan oleh kita. Akibatnya kinerja elektroda menjadi berkurang, sehingga mengakibatkan hasil pengukuran yang tidak akurat,” ungkap Ayu.

Selain itu, panduan ini sangat dibutuhkan karena di Indonesia terdapat kurang lebih 382 laboratorium pengujian yang telah diakreditasi berdasarkan SNI ISO/IEC 17025 untuk lingkup lingkungan, kosmetik, pangan dan obat-obatan. Jumlah inipun masih belum termasuk laboratorium pengujian lainnya yang belum terakreditasi, baik di universitas, lembaga pemerintahan, maupun industri.

Menurut Ayu, penggunaan pengukuran pH sangat penting, salah satunya untuk menjamin kualitas produk. Misalnya dalam bidang eskpor produk ikan tuna dari Indonesia ke luar negeri. 

“Saat ini ekspor ikan tuna menurun karena tidak memenuhi regulasi. Hal tersebut dikarenakan pada saat pemeriksaan, ikan tuna sudah tidak segar dan mengandung kadar histamin melebihi batas yang diijinkan. Kadar histamin dijadikan indikator mutu dan keamanan pangan produk ikan tuna, karena histamin yang tinggi menyebabkan efek keracunan pada manusia. Kadar histamin pada ikan tuna akan bertambah seiring menurunnya kualitas kesegaran ikan tuna. Salah satu cara untuk melihat kesegaran ikan dapat dilihat dari nilai pH nya”, jelas Ayu.

Oleh karena itu, panduan pengukuran pH ini dapat menjadi acuan bagi banyak pihak yang berkepentingan, sehingga dapat dihasilkan hasil pengukuran yang akurat dan keputusan yang tepat.

“Bagaimana jika hasil pengukuran tidak akurat? Tentunya hasil pengukuran yang tidak akurat ini akan berdampak dalam pengambilan keputusan yang salah, dan juga akan mengakibatkan pengulangan pengukuran yang membutuhkan lebih banyak waktu, tenaga, dan biaya, sehingga tentunya dapat menyebabkan kerugian baik bagi industri maupun laboratorium,” ujar Ayu. 

Webinar sosialisasi kali ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan seperti industri, laboratorium penguji, perguruan tinggi, institusi pemerintah, dan lain-lain. Dipandu oleh Pengevaluasi Ketertelusuran Standar Fisik BSN, Amila Safira Putri, webinar berjalan interaktif dan peserta sangat antusias mengikuti diskusi dan kuis yang ditayangkan.(ria-humas)