Daerah

Menggali Potensi Rumput Laut Sulawesi Selatan

 

Sulawesi Selatan salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, dari total rumput laut yang dihasilkan Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 11.269.342,00 ton, 30% diantaranya berasal dari Sulawesi Selatan, setara dengan 3.409.048,20 Ton. Potensi rumput laut yang besar, dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya nelayan dengan budidaya rumput laut. Visi dari Gubernur Syahrul Yasin Limpo akan menjadikan Sulsel penghasil rumput laut terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia. Hal ini dibuktikan dengan telah dibangunnya pabrik pengolahan rumput laut terbesar di Indonesia yang berada di Pinrang.

 

Tingginya potensi rumput laut di Sulsel menumbuhkan UKM pengolah rumput laut untuk mendongkrak ekonomi. Tim Kantor Layanan Teknis (KLT) BSN Makassar menyambangi Sekretariat Rumput Laut Center (RLC) wilayah Sulawesi di kawasan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Kamis (16/7/2017). Ditemui oleh Sekretaris RLC Sulsel, Agus, Tim KLT terdiri dari Teguh Budiono dan Daya Aruna menggali informasi tentang UKM yang tergabung dalam RLC. Menurut Agus, anggotanya lebih dari 700 anggota yang tersebar diberbagai daerah di Sulsel, seperti, Pinrang, Luwu, Palopo dan Bulukumba.

 

Pasar rumput laut Sulsel sudah merambah China, Malaysia dan Thailand, namun masih terkendala dengan regulasi yang ditetapkan oleh negera tujuan yang salah satunya adalah standardisasi mutu produk. Kebanyakan anggota RLC memproduksi produk turunan dari olahan rumput laut, mulai dari manisan, sirup, keripik, kue kacang hingga sabun rumput laut. Ke depannya diharapkan produk perikanan baik pasar ekspor maupun lokal di Sulsel dapat ditingkatkan sehingga mampu memberikan konstribusi signifikan terhadap income daerah, penyerapan tenaga kerja, dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.

 

BSN khususnya Kantor Layanan Teknis Makassar memiliki program untuk fasilitas insentif kepada UKM di Sulawesi Selatan untuk penerapan Standar Nasional Indonesi (SNI) dengan gratis. Pemberian insetif ini diutamakan kepada UKM yang memiliki produk unggulan Sulsel terutama untuk sektor pangan, non pangan dan jasa. Pemberian insetif yang akan diberikan kepada UKM ada beberapa kegiatan yaitu: Pengenalan SNI, Pendampingan UKM, dan Fasilitasi Sertifikasi SNI. Semua kegiatan tersebut akan menjadi tanggung jawab BSN dan akan diberikan secara gratis kepada UKM. Namun karena keterbatasan dana dan tenaga dari BSN, diharapakan untuk UKM yang dipilih RLC untuk mengikuti program ini yang sudah siap dan konsisten dengan segala konsekuesi yang terjadi dalam penerapan SNI. Tim KLT Makassar juga menghimbau kepada Agus, agar bersinergi dalam pembinaan UKM dalam hal penyiapan regulasi yang harus dimiliki seperti Ijin Usaha/ PIRT, NPWP, Tanda Daftar Perusahaan, dan merk dagang harus sudah dimiliki ataupun dapat diurus secara pararel sejalan dengan berjalannya program instentif.

 

Agus menyambut gembira peluang kerjasama yang diberikan BSN dan akan menyiapkan UKM terpilih yang akan diikutkan dalam program insentif penerapan SNI. Untuk itu KLT BSN Makassar akan diikutsertakan dalam forum pertemuan anggota yang rutin diselenggarakan agar semua dapat memahami pentingnya standardisasi dan penilaian kesesuaian dan peluang yang dapat dimanfaatkannya. (4d9)


Dilihat : 599


Daftar SNI yang diusulkan untuk di Abolisi JAJAK PENDAPAT RSNI3 6128:201X, Beras Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2017 3 (tiga) Tahun Kerja Bersama - Capaian Kinerja Pemerintahan JOKOWI dan JK HASIL AKHIR SELEKSI TERBUKA PENGISIAN JABATAN PIMPINAN TINGGI MADYA DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL TAHUN 2017