Daerah

Shuttlecock Larissa Dari Tegal Menjadi Shuttlecock Pertama Yang Mendapatkan Sertifikat SNI

Bulu tangkis adalah salah satu olahraga yang paling populer di Indonesia. Nama Indonesia pun menjadi harum di kancah internasional berkat prestasi membanggakan para atlet bulu tangkis kita. Siapa yang tak kenal dengan Liem Swie King, Susi Susanti, dan Taufik Hidayat? Mereka adalah legenda bulu tangkis Indonesia. Indonesia telah menorehkan prestasi 13 kali Piala Thomas dan 3 Piala Uber sepanjang sejarah dua kompetisi paling bergengsi tersebut. Lalu bagaimana dengan produk alat olahraga bulu tangkis? Sudah mampukah produk-produk alat olahraga kita menembus kancah internasional dan berprestasi segemilang atlet-atlet kita?

Di Kabupaten Tegal terdapat satu desa yang sangat identik dengan olahraga bulu tangkis. Desa Lawatan merupakan sentra industri mikro dan kecil pengrajin bola bulu tangkis atau yang lebih dikenal dengan shuttlecock. UD Tri Sakti adalah salah satu industri kecil produsen shuttlecock yang sudah 13 tahun memproduksi shuttlecock dengan merek Larissa.  Sang pemilik, Zainudin, mengembangkan usaha ayahnya yang sebelumnya hanya sebagai pemasok bulu angsa, bahan baku shuttlecock, menjadi produksi bola bulu tangkis yang nilai jualnya lebih tinggi.

Keinginan untuk selalu menjaga mutu produknya seakan terkabul ketika tim dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) datang ke Desa Lawatan dan menawarkan pembinaan penerapan SNI 0036:2014 Bola bulu tangkis secara gratis hingga mendapatkan sertifikat SNI. Zainudin satu-satunya pengrajin shuttlecock di desa tersebut yang bersedia untuk dibimbing dalam menerapkan SNI hingga ke proses sertifikasinya. Setelah melalui proses pembinaan selama kurang lebih 10 bulan, UD Tri Sakti akhirnya berhasil mendapatkan sertifikat SNI 0036:2014 Bola bulu tangkis untuk produknya dengan merek Larissa pada tanggal 3 Maret 2017.

Untuk mengapresiasi perjuangan Zainudin dalam menerapkan SNI bola bulu tangkis hingga akhirnya mndapatkan sertifikat SNI, BSN mengadakan acara penyerahan sertifikat SNI bola bulu tangkis kepada Zainudin di rumahnya, Desa Lawatan, Kabupaten Tegal, pada tanggal 4 April 2017. Penyerahan dilakukan langsung oleh Isananto Winursito, Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (LSPro Toegoe) kepada Zainudin. Isananto dengan bangga menyatakan, “Shuttlecock Larissa merupakan produsen shuttlecock pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memiliki sertifikat SNI 0036:2014 Bola bulu tangkis.” Dia berharap, Shuttlecock Larissa mampu mempertahankan terus hasil baik yang sudah berhasil dicapai ini.

Dalam acara tersebut Kepala Pusat dan Pendidikan dan Pemasyarakatan Standardisasi BSN, Nasrudin Irawan mengucapkan terima kasih kepada Balai Besar Kerajinan dan Batik yang telah melakukan sertifikasi SNI pada Shuttlecock Larissa dan kepada Universitas Panca Sakti Tegal yang secara konsisten teus membantu BSN dalam melakukan proses pembinaan baik di UD Tri Sakti maupun di UMK lain di Tegal. “Semoga dengan adanya satu contoh sukses UMK binaan BSN yang berhasil mendapatkan sertifikat SNI ini, diharapkan UMK lain yang ada di Kabupaten Tegal semakin tertarik untuk menerapkan standar untuk menambah daya saing,” ujar Nasrudin. BSN akan selalu siap membantu melakukan pendampingan penerapan SNI kepada UMK karena telah diamanahkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian.

Potensi UMK untuk menunjang perekonomian di Kabupaten Tegal sebenarnya cukup besar. Potensi yang besar itu oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Tegal ingin lebih didorong lagi agar meningkat daya saingnya dengan adanya penerapan standar. Kepala Bidang Industri Logam Mesin Elektronika Tekstil dan Aneka Disperinnaker Kabupaten Tegal, Arifin mengungkapkan bahwa pemerintah daerah memiliki keinginan besar untuk terus bekerjasama dengan BSN untuk meningkatkan daya saing UMK di Kabupaten Tegal. “Industri kecil di Kabupaten Tegal ada 11.000, tapi bahkan belum ada 1 persen yang menerapkan SNI. Ini yang mendorong kami untuk terus bekerjasama dengan BSN agar industri kecil di Tegal seluruhnya bisa berstandar,” pungkas Arifin.


Dilihat : 432


Terhitung Mulai tanggal 2 mei 2017, Layanan informasi standar tidak menerima pembayaran secara tunai, pembayaran dilakukan melalui Aplikasi SIMPONI. BSN Melakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman Dengan Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) HASIL AKHIR SELEKSI TERBUKA PENGISIAN JABATAN PIMPINAN TINGGI PRATAMA DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL TAHUN 2017 SIARAN PERS: Dukung Sulsel Ber-SNI, IQE Ke-5 Diselenggarakan Di Makasar INDONESIA QUALITY EXPO 2017