Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Antisipasi Bencana, Pemerintah Dorong Perwujudan Kota Tangguh Bencana Sesuai SNI

  • Jumat, 12 Agustus 2022
  • Humas BSN
  • 205 kali

Secara geologis dan geografis, Indonesia berada di lokasi yang rawan terhadap bencana (ancaman alam), seperti gempa letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, puting beliung, banjir, tanah longsor, kelangkaan air, dan sebagainya. Bencana dapat mengakibatkan hilangnya nyawa dan cedera, kerugian dan dampak material, ekonomi, atau lingkungan.

Untuk itu, kota harus mampu melakukan tindakan mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi bencana, menghadapi perubahan, agar dapat terus bertahan di masa depan. Kota yang tangguh harus mampu bersiap untuk, pulih dari, dan beradaptasi dengan guncangan dan tekanan.

“Kesiapan kota dapat dicirikan dengan mengembangkan pemahaman rinci tentang risiko kota, dengan mengambil tindakan untuk mengurangi kerentanan dan keterpaparan, serta dengan meningkatkan kesadaran dan partisipasi individu, rumah tangga, dan bisnis,” ujar Deputi Pengembangan Standar Badan Standardisasi Nasional (BSN), Hendro Kusumo, dalam FGD Implementasi Pembangunan Infrastruktur dan Bangunan Gedung Tangguh Bencana untuk Mendukung Terwujudnya Resilience City, Kamis (11/8/2022).

Dalam rangka mendorong terwujudnya kota tangguh, pada tahun 2021 BSN bersama Komite Teknis 13-11 telah mengadopsi standar internasional (ISO) menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI), yakni SNI ISO 37123:2019 Perkotaan dan Masyarakat Berkelanjutan – Indikator-indikator ketangguhan kota. SNI ini merupakan lanjutan dari seri SNI terkait perkotan dan masyarakat berkelanjutan.

Hendro menjelaskan, data-data penting dikumpulkan guna mempersiapkan suatu kota untuk pulih dan kemudian beradaptasi dengan bencana yang terjadi. “Data-data yang ada nanti bisa digunakan untuk sinergi, kolaborasi antar kota, berbagi pengalaman, menjadi studi kasus bagi kota lain” terang Hendro.

Ia pun menilai, pembangunan Ibukota baru menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk mewujudkan perkotaan dan masyarakat berkelanjutan, membangun kota cerdas dan kota tangguh melalui penerapan standar. “Dengan indikator-indikator yang terdapat dalam dokumen SNI, pembangunan kota cerdas dan kota tangguh dapat terukur,” tutur Hendro.

Dalam FGD ini, Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Wahyu Utomo menilai, SNI ISO 37123:2019 dapat berperan penting untuk meningkatkan ketahanan kota dan menyikapi risiko kejadian bencana serta perubahan iklim yang semakin meningkat. Ia pun berharap, kota-kota di Indonesia dapat mengimplementasikannya. “Kami harap, dengan adanya SNI ISO 37123:2019 dapat mendorong, mewujudkan infrastruktur dan bangunan gedung yang Tangguh bencana,” ujarnya.

FGD yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini dilaksanakan secara daring. Selain Hendro Kusumo, FGD ini juga menghadirkan Direktur Pemulihan dan Peningkatan Fisik - Kedeputian Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Ali Bernadus; Ahli Arsitektur dan Teknologi Bangunan Gedung dan Dosen di Universitas Trisakti, Jimmy Siswanto Juwana; serta Fungsional Analis Kebijakan Kemenko Bidang Perekonomian, Setiadi Indra D. Notohamijoyo. (ald-Humas)