Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Undang BSN, AKAMIGAS Balongan Kenalkan Penerapan Standar K3 di UMKM

  • Senin, 11 Oktober 2021
  • Humas BSN
  • 842 kali

Indramayu, salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di sisi pantai utara pulau Jawa (Pantura) memiliki banyak potensi produk unggulan daerah dan telah mempunyai ikon, seperti buah mangga, kerupuk Indramayu, kesenian tarling (gitar dan suling), kilang minyak balongan, termasuk ikon lembaga pendidikan vokasinya yaitu Akademi Minyak dan Gas Bumi (AKAMIGAS) Balongan.

AKAMIGAS Balongan berdiri pada tanggal 2 Agustus 2002 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 167/D/O/2002, saat ini memiliki 3 (tiga) program studi tingkat DIII, yaitu Teknik Perminyakan, Teknik Kimia, dan Fire and Safety. AKAMIGAS Balongan merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta di wilayah Jawa Barat dan Banten yang berbentuk akademi dan menyelenggarakan program studi Perminyakan serta Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kebakaran.

Pada Selasa (05/10), AKAMIGAS Balongan menyelenggarakan Diskusi Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) K3 (SNI ISO 45001:2018) dan Pencegahan Covid-19 (SNI ISO/PAS 45005:2020) dengan Asosiasi Pengusaha Kerupuk Indramayu (APKI) yang berjumlah 15 UMKM Kerupuk.

Acara diskusi dibuka oleh Direktur AKAMIGAS Balongan, Hj. Hanifah Handayani, MT. Turut hadir dalam kesempatan ini, Analis Standardisasi Ahli Madya selaku Koordinator Kelompok Substansi Fasilitasi Pelaku Usaha Badan Standardisasi Nasional (BSN), Nur Hidayati dan Dosen Fire & Safety Akamigas Balongan yang juga merupakan anggota Komite Teknis 13-01 Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Masjuli.

“Bapak Ibu UMKM kita harapkan harus optimis untuk mampu menerapkan SNI, baik itu SNI untuk produknya, maupun SNI K3 dan pencegahan Covid-19. Manfaat penerapan SNI ini akan kembali ke temen-temen UMKM semua, yaitu sebagai anak tangga untuk UMK naik kelas, pekerja jadi aman, nyaman dalam berproduksi. Di samping itu produk yang dihasilkan juga terjamin mutu dan keamannya sehingga kepercayaan pasar menjadi meningkat,” tutur Nur Hidayati.

Dalam penerapan SNI nantinya akan didampingi tim dari BSN dan dosen atau adik-adik mahasiswa dari AKAMIGAS Balongan sebagai salah satu program Tridharma Perguruan Tinggi dalam pengabdian masyarakat, jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak mau menerapkan SNI lanjut penjelasan Nur Hidayati. Keberhasilan dalam penerapan SNI dan manfaatnya akan didapat jika Bapak/Ibu selaku pimpinan UMKM memiliki komitmen kuat, terang Nur Hidayati sambil menceritakan kisah sukses salah satu UMKM yang dibina BSN, CV Bolu Ketan Mendut dari Jawa Timur sampai berhasil ekspor ke Turki, Hongkong dan Australia.

Tim BSN dan AKAMIGAS Balongan melanjutkan kunjungan lapangan ke 4 UMKM Kerupuk yang berlokasi di Dukuh Kerupuk Desa Kenanga. Hasil peninjauan lapangan di UKM kerupuk tersebut, masih banyak tantangan yang harus dilakukan untuk membantu UKM kerupuk agar mampu naik kelas. Selama ini pasar mereka sudah masuk pasar lintas pulau, namun ketika memperluas pasar ekspor masih terkendala dalam penerapan standar keamanan pangan. Disamping itu juga kondisi sentra industri kerupuk ini yang notabene belum sesuai dengan standar keamanan pangan, masih ditemui di dekat lokasi pabrik ada sungai yang menghitam dan berbau. Informasi dari UKMnya, kondisi ini diketahui oleh calon buyer Jepang, sehingga menghambat transaksi untuk pasar ekspor.  Untuk jangka panjang,, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi dan peran swasta di wilayah Indramayu melalui program CSRnya dapat menjadikan Sentra Industri Kerupuk Indramayu ini menjadi Sentra Wisata Kuliner Kerupuk yang sehat dan ama serta menjadi ikon Pemkab Indramayu untuk tujuan wisatawan nusantara.  (Dit. PPSPK)