Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Meningkatkan Potensi Ekspor Kain Tradisional Indonesia dengan SNI

  • Kamis, 27 Mei 2021
  • Humas BSN
  • 443 kali

 

Kain tradisional dari setiap daerah di Indonesia sangat beragam, sehingga memerlukan identifikasi guna mengenali keaslian atau keautentikannya sehingga ciri khas dari setiap kain tradisional tersebut terus terjaga dan dikenal oleh masyarakat dalam dan luar negeri.

“Indonesia punya banyak kain tradisional. Banyak negara sudah membuat tanda keaslian (certificate of origin) pada produk tesktilnya. Indonesia juga bisa mengembangkan sertifikasi tanda Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait kain yang dilengkapi dengan atribut dan Indikasi Geografis (IG) contohnya label Kain Tenun NTT untuk menjamin keaslian dan asal daerah kain tersebut bagi khalayak luas termasuk bagi masyarakat internasional,”ungkap Deputi Bidang Akreditasi Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komite Akreditasi Nasional (KAN), Donny Purnomo saat menerima kunjungan Kepala Balai Besar Tekstil (BBT) Kementerian Perindustrian beserta jajarannya ke kantor Komite Akreditasi Nasional (KAN) di Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Menurut Donny, BBT memenuhi kompetensi untuk mensertifikasi kain tradisional. “BBT dapat menginisiasi hal tersebut dimana SNI kedepan bukan hanya beyond safety tetapi juga mengembangkan ciri, estetika dan keaslian untuk mengejar pasar bagi kain tradisional Indonesia melalui promosi di pagelaran besar lingkup internasional,” ujar Donny.  

Donny menambahkan, KAN melalui skema-skema akreditasi yang dikembangkan untuk berbagai keperluan termasuk untuk ekspor dapat memperkuat kepercayaan stakeholder. Oleh karena itu, tanda SNI untuk menjamin keaslian dinilai berperan penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap keaslian produk-produk Indonesia.

Kain tradisional Indonesia yang beraneka ragam telah didokumentasikan oleh BBT, bahkan masih banyak kain tradisional Indonesia yang terus diindentifikasi karakter serta ciri khasnya sesuai asal daerah pembuatnya.

Kepala BBT, Cahyadi menjelaskan, “BBT pernah membuat Katalog Tenun Tradisional, dapat kita gali kembali yang macamnya bisa ribuan. Baru-baru ini Kalimantan Timur sebagai Calon Ibu Kota Baru memunculkan ikonnya yaitu Kain Ulap Doyo yang terbuat dari daun. Begitu pula Tenun khas Luwu yang meminta BBT untuk mengangkatnya. Dari sini terlihat potensi besar kain-kain tradisional Indonesia untuk dikenal secara internasional apalagi ditambah label SNI.”

‘’BBT juga berencana untuk mengeluarkan certificate of origin bagi kain sutra dan kain-kain lainnya yang terbuat dari serat tumbuhan. Secara teknis BBT memiliki kemampuan untuk membuat sertifikat keaslian tersebut secara resmi,” tambah Cahyadi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengujian, Sertifikasi, dan Kalibrasi BBT, Quri Siti Mirah DP menjelaskan bahwa aneka ragam kain tradisional Indonesia bermanfaat dalam bentuk yang beragam pula, salah satunya adalah seragam. Untuk menjamin keamanan penggunaan seragam tersebut memerlukan adanya sertifikasi produk dari kain tradisional. Sebagai contoh Kain Tenun NTT yang rencananya akan dimanfaatkan dalam bentuk seragam.

Kedepannya, ciri dan kriteria dari setiap kain tradisional dapat dikembangkan skemanya untuk SNI produk handycraft Indonesia yang turut memberikan jaminan dari sisi sosial, kesehatan serta kelestarian lingkungan, tutup Donny yang didampingi Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito. (PjA – Humas)

 

Galeri Foto: Meningkatkan Potensi Ekspor Kain Tradisional Indonesia dengan SNI