Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Sudah Menerapkan SNI, Ulam Mulyo Mampu Bertahan dan Siap Bangkit di Tengah Pandemi

  • Sabtu, 22 Mei 2021
  • Humas BSN
  • 275 kali

PEKALONGAN – Pandemi COVID-19 yang mendera selama satu tahun ini berdampak pada berbagai sektor. Dampak pandemi paling terasa terjadi pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Untuk itu, UMKM perlu terus didorong terutama dalam meningkatkan daya saing produknya. Salah satunya adalah dengan menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Namun tak sedikit pula UMKM yang masih mampu bertahan di tengah pandemi. Bahkan siap untuk kembali bangkit dan siap bersaing.

Salah satu UMKM di Kota Pekalongan, Jawa Tengah yang masih terus mampu bertahan di tengah pandemi dan penerap SNI adalah Ulam Mulyo. UMKM ini didirikan pada tahun 2012 oleh pasangan suami istri H Abdul Rohman Sutiyono dan Hj Pratiwi Rahayu Soerono, atau biasa disapa Yayuk.

Berlokasi di rumahnya, di Jl. Kruing No. 132, Slamaran, Krapyak RT.03/RW.10, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Ulam Mulyo memproduksi berbagai jenis makanan olahan ikan dengan merek dagang ‘HARS FOOD’.

Setidaknya ada sembilan jenis produk olahan ikan berupa frozen food yang diproduksi Hars Food. Mulai dari bakso ikan, naget ikan, ekkado, otak-otak, kaki naga, siomay, keong mas, rolita, hingga dimsum.

Bakso ikan dan naget ikan Hars Food produksi Ulam Mulyo ini sudah memiliki sertifikat SNI. Perinciannya, SNI 7266:2014 untuk Bakso Ikan dan SNI 7758:2013 untuk Naget Ikan. Kedua SNI tersebut terbit pada 29 Desember 2019 dan berlaku hingga 29 Desember 2023.

Selain memiliki SNI, produk-produk tersebut juga telah memiliki sertifikat Halal dari MUI, Haki, BPOM MD, Laik Hygienis, SKP (Sertifikat Kelayakan Pengolahan), dan SPI (Sertifikat Pengolah Ikan).

Berbekal sertifikasi yang cukup komplit itu, Ulam Mulyo yakin akan terus bisa bersaing di pasar dan bisa kembali bangkit pascapandemi COVID-19.

“Kami terbukti sampai saat ini bisa terus bertahan meski ikut terdampak pandemi selama lebih kurang setahun ini. Bukan hanya terdampak pandemi, tahun lalu rumah kami juga terendam banjir rob cukup besar sehingga berapa peralatan produksi mengalami kerusakan. Tapi kami masih terus mampu bertahan,” ungkap Yayuk, didampingi sang suami, Sutiyono, Rabu (19/5/2021).

Yayuk mengungkapkan, sejak ada pandemi COVID-19, omzet Hars Food mengalami penurunan hingga hampir 75%. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya patah semangat. Pesanan masih terus datang meski belum seramai ketika sebelum ada pandemi. “Beberapa restoran dan kafe masih rutin mengambil produk kami,” katanya.

Pemasaran yang dilakukan takhanya secara konvensional, tetapi juga sudah merambah melalui online.

“Kami yakin dengan kualitas produk kami yang terus kami jaga sesuai SNI, kami akan tetap bisa bersaing di pasaran. Masyarakat juga harus lebih cerdas memilih mana-mana produk yang jelas kualitasnya, aman, sehat, sudah ber-SNI, dan mana yang tidak,” ungkapnya. “Produk kami diolah sesuai standar mutu SNI sehingga aman untuk dikonsumsi dan berkualitas,” tandasnya lagi.

Menurutnya, kunci dari semua itu adalah komitmen. Komitmen untuk menjaga kualitasdiolah sesuai standar mutu SNI sehingga aman untuk dikonsumsi dan berkualitas. Sanitasi higienisnya harus terjaga.

Yayuk pun menceritakan bagaimana dulu dia memperoleh SNI untuk bakso ikan dan naget produksinya. Apa yang dicapai sekarang ini menurutnya tak lepas dari dukungan dan pembimbintan berbagai stakeholder. Baik itu Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), maupun Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Awal kenapa ia dan suaminya mengurus berbagai sertifikasi dan standardisasi untuk produknya adalah karena mereka menyadari bahwa produk frozen food termasuk kategori ‘high risk’ atau berisiko tinggi. Maka keamanan dan kesehatan produk harus benar-benar terjamin.

Pertama yang diurus adalah Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP). “Kami dapat SKP karena ruang processing kami sudah sesuai aturan yang digariskan,” kata Yayuk.

Setelah SKP, berangsur produk bakso ikan dan naget ikan yang mereka produksi mendapatkan MD dari BPOM. Juga mendapatkan sertifikat halal dari MUI.

Setelah memperoleh MD dari BPOM (BPOM RI MD 243211001160 dan BPOM RI MD 243211002160), baru kemudian memperoleh SNI. “SNI untuk produk kami ini sebenarnya sukarela, tetapi kami karena kami yakin bahwa produk kami sudah memenuhi standar, maka kami mengurusnya untuk meraih SNI,” imbuh Sutiyono.

SNI Bakso Ikan dan Naget Ikan menetapkan syarat mutu dan keamanan, bahan baku, bahan penolong, dan bahan lainnya serta penanganan dan pengolahan bakso ikan dan naget ikan. Persyaratan mutu SNI Bakso Ikan dan Naget Ikan meliputi lulus uji batas maksimum untuk sensori, kimia, cemaran mikroba, cemaran logam, dan cemaran fisik.

Diungkapkan bahwa diraihnya SNI untuk bakso ikan dan naget ikan Hars Food ini bisa dikatakan sebagai ‘hadiah’ dari KKP. Ketika itu, KKP memfasilitasi UMKM Ulam Mulyo untuk meraih SNI karena sebelumnya sudah punya MD dari BPOM. “Kemudian, pengujiannya dilakukan oleh LSPro (Lembaga Sertifikasi Produk) dari Semarang,” imbuhnya.

Sutiyono memaparkan, sejumlah stakeholder terkait di jajaran Pemerintah Kota Pekalongan, seperti Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM, maupun Dinas Perindustrian beberapa kali telah memfasilitasi Ulam Mulyo untuk memperluas pemasaran maupun memberikan pembinaan.

“Kami berharap ke depannya pemerintah lebih maksimal lagi membantu UMKM seperti kami, utamanya dalam hal pemasaran,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pekalongan melalui Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis (UPT) Technopark Perikanan, Muhammad Syukron, S.Pi, menerangkan bahwa Technopark Perikanan yang merupakan UPT di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan, merupakan salah satu instansi yang turut bertugas untuk membina kelompok pengolah dan pemasar (poklahsar) perikanan. “Di Kota Pekalongan ada Poklahsar Mina Mandiri yang di dalamnya ada UMKM-UMKM di bidang pengolah maupun pemasar ikan,” katanya.

Pihaknya mengapresiasi UMKM Ulam Mulyo karena dari 30an UMKM poklahsar perikanan, hanya Ulam Mulyo yang sudah mempunyai sertifikat SNI. “Itu bisa menjadi contoh atau role model bagi UMKM lain agar mencapai hal yang sama,” ungkapnya.

Menurutnya, Technopark Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Pekalongan akan terus siap memfasilitasi dan memberikan pembimbingan maupun pembinaan agar produk-produk UMKM perikanan bisa memenuhi standar kualitas maupun keamanan produk. “Kami juga siap membantu dalam hal pemasaran,” imbuh Syukron. (way)

 

Tautan berita: Sudah Menerapkan SNI, Ulam Mulyo Mampu Bertahan dan Siap Bangkit di Tengah Pandemi – Radar Pekalongan Online