Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Menperin Agus Sebut Alasan Industri Tekstil Masuk Prioritas di Program Industri 4.0

  • Rabu, 21 April 2021
  • Humas BSN
  • 163 kali

Merdeka.com - Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita menjadi salah satu pembicara dalam acara Opening Ceremony inaFashion Smesco Online Expo 2021, Rabu (21/4). Dalam kesempatan itu, Menperin Agus mengungkapkan bahwa industri tekstil dan pakaian jadi sebagai salah satu sektor industri prioritas pada program Making Indonesia 4.0.

"Sehingga, (industri tekstil dan pakaian jadi) penting untuk dikembangkan," ungkap dia.

Dia mencatat, pada 2020 lalu, kinerja industri tekstil dan pakaian jadi mampu mencapai USD10,62 miliar. "Sedangkan kontribusinya terhadap PDB (Pendapatan Domestik Bruto) industri pengolahan non migas sebesar 6,76 persen," paparnya.

Mengacu pada segala potensi dan keunggulan yang dimiliki sektor industri tekstil dan pakaian jadi tersebut, kata menperin, pada kesempatan ini dirinya kembali mengajak seluruh stakeholders terkait bersama masyarakat Indonesia untuk turut menyukseskan penyelenggaraan inaFashion Smesco Online Expo 2021. Di antaranya dengan membeli berbagai produk fashion lokal yang ditawarkan.

Menurutnya, cara tersebut efektif untuk meningkatkan kinerja industri tekstil dan pakaian jadi di tahun ini. Sehingga kemampuan daya saing industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia kian mantap di kancah global menyusul tingginya kepercayaan pasar domestik.

"Memajukan industri fashion nasional (ialah) dengan selalu mempromosikan dan menggunakan produk fashion dalam negeri," ujar dia menekankan.

Pemerintah Dorong Industri Tekstil Berinovasi Lewat Teknologi Terbaru

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mendorong optimalisasi pemanfaatan teknologi industri untuk mendongkrak daya saing sektor manufaktur nasional. Melalui langkah tersebut, diharapkan industri manufaktur Tanah Air akan terus berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi.

“Guna terus melakukan perubahan, perlu menerapkan dan memanfaatkan teknologi terbaru,” kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi di Jakarta, Sabtu (13/2).

Pemanfaatan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan daya saing juga didorong Kemenperin pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Menghadapi pandemi Covid-19, industri TPT melakukan pengembangan material tekstil dengan fungsi khusus untuk medis. Hal ini dilakukan lantaran permintaan konsumen ketika pandemi terhadap produk tekstil yang memiliki fungsi anti bakteri dan anti virus terus meningkat.

Terkait hal ini, salah satu satuan kerja Kemenperin di bidang standardisasi dan jasa industri, yakni Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung, mengembangkan fasilitas laboratorium melt spinning. Fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan oleh industri TPT nasional yang tengah melakukan pengembangan bahan baku benang dengan fungsi khusus, termasuk untuk keperluan medis. “Pengembangan material akan berdampak pada peningkatan daya saing industri tekstil dan produk tekstil nasional,” tuturnya.

Dia menambahkan, teknologi melt spinning mampu mendesain benang dengan fungsi khusus yang langsung ditanamkan pada seratnya. Dengan adanya proses rekayasa serat menggunakan teknologi melt spinning, dapat dihasilkan produk tekstil fungsional yang memiliki tingkat durabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penyempurnaan tekstil secara kimia.

"Kami menyiapkan melt spinning untuk mendukung industri. Kami mempersilakan industri memanfaatkan teknologi dan peralatan ini. Salah satu keunggulannya adalah bisa mencari bahan terbaik seperti yang diinginkan,” ujarnya.

Kepala BBT Bandung Wibowo, Dwi Hartoto mengaku siap berkontribusi dalam melakukan kajian standardisasi produk-produk tekstil fungsional serta melayani industri dalam pengujian mutu produk yang dihasilkan. Terkait layanan uji di segmen produk tekstil medis, BBT Bandung bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendirikan fasilitas laboratorium pengujian masker medis.

Pengujian yang dapat dilakulan di laboratorium tersebut antara lain bacteria filtration efficiency (BFE), particle filtration efficiency (PFE), breathing resistance,syntheticblood penetration test atausplash resistance,differential pressure, dan uji flammability.

“Fasilitas ini disiapkan dalam rangka menjawab tantangan untuk menciptakan produk tekstil yang berkualitas dan memadai, seperti pada saat pandemi seperti ini,” sebutnya.

Dia menambahkan, laboratorium pengujian masker di BBT Bandung mengacu pada parameter yang telah direkomendasikan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan telah diadopsi identik oleh Badan Standardisasi Nasional menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI), yakni SNI EN 149:2001+A1:2009 (standar masker N95)dan SNI EN 14683:2019+AC:2019 (standar masker medis). Kemudian, ada pula SNI 8488:2018 (standar masker medis) serta SNI 8914:2020 yang merupakan standar masker kain.

"Melalui fasilitas pengujian masker di BBT Bandung, pemerintah menyiapkan agar masker yang diproduksi di tanah air nantinya sesuai dengan SNI serta standar yang ditetapkan WHO,” pungkas Dwi.

[bim]

 

Tautan berita:Menperin Agus Sebut Alasan Industri Tekstil Masuk Prioritas di Program Industri 4.0 | merdeka.com