Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Mengelola Risiko di Organisasi dengan SNI ISO 31000

  • Selasa, 22 November 2016
  • Humas BSN
  • 14959 kali

Manajemen risiko saat ini telah menjadi rujukan utama dalam penerapan berbagai standar sistem manajemen lainnya seperti ISO 9001 untuk mutu, ISO 14001 untuk lingkungan; ISO 22000 untuk keamanan pangan; ISO 27001 untuk keamanan informasi; ISO 45001 untuk K3: ISO 50001 untuk efisiensi energi dan lain-lain, dimana setiap standar sistem manajemen tersebut selalu memasukkan klausul didalamnya dengan satu klausul khusus terkait pengelolaan risiko sesuai sektornya, yang secara khusus pasti akan mengacu pada ketentuan yang ada pada ISO 31000 Risk management — Principles and guidelines. Dengan demikian ISO 31000 bersifat horizontal dan cross cutting lintas sektor yang akan selalu merupakan rujukan utama dalam penerapan manajemen risiko, apapun sektornya.

 


 

BSN sebagai anggota aktif  organisasi pengembang standar internasional ISO (International Organization for Standardization), telah menggunakan seri standar internasional ISO 31000 series on Risk management, sebagai acuan dalam pengembangan SNI, yang terdiri dari empat standar yaitu:

  • ISO 31000:2009 Risk management — Principles and guidelines (diadopsi menjadi SNI ISO 31000:2011, Manajemen risiko – Prinsip dan panduan);
  • ISO Guide 73:2009 Risk management — Vocabulary (diadopsi menjadi SNI ISO Guide 73:2016, Manajemen risiko – Kosakata);
  • ISO/TR 31004:2013 Risk management — Guidance for the implementation of ISO 31000 (diadopsi menjadi SNI ISO/TR 31004:2016, Manajemen risiko – Panduan untuk implementasi SNI ISO 31000);
  • ISO/IEC 31010:2009  Risk management — Risk assessment techniques (diadopsi menjadi SNI ISO 31010:2016, Manajemen risiko – Teknik penilaian risiko).

 

Pelatihan untuk sosialisasi standar tersebut merupakan salah satu upaya untuk memastikan bahwa seri standar manajemen risiko SNI ISO 31000 dapat dipahami dan diterapkan dengan baik dan benar oleh para pelaku dari berbagai organisasi. Tersedianya acuan standar  ini akan dapat dimanfaatkan dalam proses adaptasi para penerap standar ini terhadap berbagai tuntutan dan dinamika pelaksanaan manajemen risiko khususnya dapat mampu  memanfaatkan ancaman menjadi peluang dan daya saing berkat risiko dikelola secara profesional dengan mengadopsi prinsip-prinsip manajemen risiko secara efektif. Ini didasari pertimbangan bahwa aspek pengelolaan risiko sangat vital bagi unjuk kerja dan keberlangsungan suatu organisasi.

 

Harapannya ke depan, penerapan seri standar SNI ISO 31000 di berbagai kalangan pemangku kepentingan dapat makin meluas dalam rangka mewujudkan peningkatan pelayanan prima dan menjamin sustainability organisasi karena telah mengelola risiko dan ketidakpastian yang dapat mengganggu pencapaian sasaran organisasi.

 

Dalam upaya untuk mensosialisasikan SNI ISO 31000 Manajemen risiko, BSN dengan didukung peran aktif dari mitra PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan The Indonesian Capital Market Institute (TICMI) menyelenggarakan Pelatihan SNI ISO 31000 Manajemen risiko di gedung bursa efek Indonesia (IDX) hari Senin, tanggal 21 November 2016.

 

Kegiatan yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Bulan Butu Nasional (BMN) 2016 ini, dibuka secara resmi oleh Deputi bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi,  Erniningsih Haryadi. Erniningsih menyampaikan, selaras dengan tema hari standar dunia “Standard Build Trust”, penerapan SNI ISO 31000 diyakini akan mampu membangun kepercayaan publik terhadap organisasi yang telah menerapkan SNI ISO 31000, sehingga ke depannya standar tersebut akan menjadi acuan yang sangat penting bagi berbagai organisasi, termasuk unsur pemerintahan.


 

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan IDX, Hamdi Hassyarbaini, dalam sambutannya menyampaikan dengan banyaknya ketidapastian yang mungkin muncul di sektor industri pasar modal, sangat dibutuhkan suatu standar untuk mengenali dan mengantisipasi ketidakpastian tersebut yang bisa menjadi risiko, dan oleh karena itu SNI ISO 31000 menjadi sangat penting dan perlu diterapkan di industri pasar modal.

 

Sementara itu, Ketua Komite Teknis 03-10 Manajemen Risiko, Antonius Alijoyo, menyampaikan, untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu membangun daya saing, namun dalam peningkatan daya saing dan persaingan itu sendiri akan banyak muncul ketidakpastian yang dapat menghasilkan risiko, sehingga diperlukan pendekatan terstruktur untuk memahami risiko dan mengelolanya dengan solusi dalam waktu secepatnya. Untuk itulah, Komite Teknis 03-10 mengadopsi ISO 31000 menjadi SNI ISO 31000. Digaris bawahi oleh Antonius bahwa SNI ISO 31000 merupakan standar dengan pendekatan terstruktur dan diakui secara internasional sehingga dapat dijadikan pondasi untuk memahami risiko apapun sektor dan ukuran organisasi yang yang menerapkannya.

 

Pelatihan yang tidak dipungut biaya ini, diselenggarakan dalam tujuh kelas dengan kapasitas keseluruhan adalah 420 peserta dengan masing-masing kelas terdiri dari 60 (enam puluh) peserta. Setiap kelas pelatihan  didisain agar latar belakang peserta disesuaikan menurut kategorinya masing-masing, yaitu pasar modal (dua kelas); keuangan; pendidikan; telekomunikasi dan IT; tambang dan mineral; serta infrastuktur. Dengan demikian diharapkan dinamika diskusi per kelasnya akan dapat efektif karena homogen dan semoga akan berjalan dengan sukses. Bertindak sebagai pembicara di masing-masing kelas adalah para anggota Komtek 03-10. Pelatihan ini merupakan salah satu upaya memastikan standar dapat dipahami dan diterapkan dengan baik dan benar oleh para pelaku dari berbagai organisasi (HK/4d9)