Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

5 Alasan Pempek Sangat Layak Mendunia

  • Rabu, 26 September 2018
  • KLT Palembang
  • 647 kali

Pempek ini sangat layak mendunia ada 5 alasan yang mendasarinya, ujar Prof. Dr. Rindit Pambayun, Guru Besar Teknologi Pangan Universitas Sriwijaya yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan tingkat ASEAN, Selasa (25/09) di Kantor Layanan Teknis BSN Wilayah Palembang dalam Rapat Penyusunan Rencana Aksi Pengembangan SNI Pempek menjadi Standar Pangan Dunia.

 

Pertama Pempek itu Indigenous atau asli Indonesia, terutama Palembang, Pempek sudah menjadi bagian budaya dan sejarah masyarakat Palembang. Bahkan, menurut Yenni Anggraeni Ketua Asosiasi Pengusaha Pempek Palembang (ASPPEK) Pempek sudah ditetapkan oleh Pemerintah RI (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) pada 17 Oktober 2014 ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

 

Bahkan, lanjut Yenni, Pemerintah RI pada 30 Agustus 2017 telah mengusulkan ke UNESCO untuk menjadi warisan budaya tak benda tingkat dunia sebagai bentuk perlindungan dan pelestarian budaya kuliner khas Indonesia yang berasal dari Palembang.

 

Alasan kedua Pempek ini sangat distinctive atau istimewa lanjut Rindit Pambayun mampu membuat orang yang tidak suka makan ikan menjadi suka, bahkan cucu saya yang kecil tidak suka makan daging ikan, tapi setiap diberi pempek selalu habis.

 

Ketiga, Pempek ini sangat marketable atau mudah dipasarkan, karena disukai oleh hampir semua lapisan masyarakat, termasuk turis mancanegara, terang Rindit Pambayun yang sering menghadiri kajian ilmiah pangan dan sering diminta membawa atau pernah membuat pempek, ternyata disukai oleh orang luar negeri.

 

Yenni anggraini menambahkan bukti bahwa pempek sangat marketable bahwa dari data lapangan anggota ASPPEK, Pusat Produksi dan Penjualan Pempek, PT POS Indonesia, Jasa Kurir dan Kargo di Palembang sehari sebanyak 14 ton sehari Pempek dikirim keluar Palembang termasuk dikirim keluar negeri.

 

Keempat, Pempek ini functional food atau pangan fungsional karena di samping bergizi dan berprotein tinggi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kecerdasan, terutama bagi anak-anak. Bahkan cuko atau cuka pempek bermanfaat bagi kesehatan dan mampu menambah nafsu makan anak-anak. Bahkan ada teman saya Guru Besar di UNSRI penelitiannya tentang Cuko Pempek yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tambah Rindit Pambayun.

 

Alasan kelima adalah Pempek ini merupakan pangan tradisional yang sangat ilmiah atau scientific, mampu dibuktikan secara ilmiah mengenai kandungan gizi dan manfaatnya bagi kesehatan, jelas Rindit Pambayun.

 

Maka dari itu saya memiliki motivasi menduniakan pempek dan mem-pempek-kan dunia dengan syarat pempeknya harus memenuhi standar hygiene dan sanitasi baik SNI maupun nanti yang mau diusulkan menjadi standar pangan dunia, ujar Rindit Pambayun yang juga ahli gambir.

 

Rapat ini merupakan tindak lanjut dari Kegiatan Pemecahan Rekor MURI Sajian Pempek berSNI Terbanyak, 18.818 porsi pada 8 Agustus 2018 di BKB Palembang, jelas Haryanto dari Kantor Layanan Teknis BSN Palembang.

 

Hadir dalam rapat Andrianistin dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Soni Mahrani dari Dinas Perindustrian Sumsel yang juga merangkap Tim Gubernur untuk Pengawasan dan Pembinaan SNI di Sumsel, D. Budiarto, Sekretaris Masyarakat Standardisasi Indonesia Sumsel.

 

Dalam waktu dekat semoga bisa terlaksana forum diskusi terarah (Focussed Group Discussion) tentang sejarah dan kajian ilmiah termasuk data perdagangan pempek dalam dan luar negeri guna mendukung usulan SNI Pempek menjadi standar pangan dunia. Apalagi, Menteri Pariwisata yang hadir pada acara tersebut berkeinginan memasukkan pempek menjadi national food yang keenam setelah Soto, Sate, Nasi Goreng, Rendang, Gado-gado, ujar Haryanto.

 

Memanfaatkan Posisi Indonesia di Forum CAC

 

Dalam rapat disampaikan bahwa saat ini Indonesia memegang posisi strategis di Forum Codex Alimanterius Comission, badan standar pangan dunia yang dibentuk oleh FAO dan WHO yang beranggotakan semua negara anggota kedua organisasi tersebut.

 

Untuk Indonesia, pengelolaan Codex dilakukan melalui Panitia Nasional yang beranggotakan lintas kementerian/Lembaga, yakni BPOM, Kementan, Kemenkes, Kemendag, KKP, Kemenperin dan BSN selaku ketua dan sekretaris.

 

Sudah dua orang ilmuwan Indonesia menjabat posisi penting di CAC, yakni Prof. Dr. FG. Winarno, sebagai presiden CAC selama 2 periode (1991-1995) dan Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi menjabat Vice Chair CAC untuk periode 2017-2019.

 

Indonesia juga berpengalaman sukses merumuskan standar CAC, diantaranya Tempe, Mie Instan, Tepung Sagu, Lada Putih, Lada Hitam, Bawang Merah dan Pala.

 

SNI Pempek Segera Direvisi

 

Hasil diskusi yang disampaikan oleh Andrianistin dari Laboratorium Pengujian dan Penerapan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Sumsel yang juga masuk dalam Tim KKP untuk Pengembangan Standar Produk Perikanan. KKP melalui Komite Teknis SNI 65-05 Produk Perikanan, 14 Oktober 2018 akan mengusulkan ke BSN untuk Jajag Pendapat Rancangan SNI Pempek mengingat SNI Pempek edisi terakhir tahun 2013 sudah saatnya dikaji ulang disesuaikan dengan perkembangan teknologi (pengujian mikrobiologi) serta kebutuhan pasar dan pelaku usaha , diantaranya usulan perubahan sebagai berikut:

1. Merubah di ruang lingkup
a. ‘’dengan atau tanpa pembekuan’’ sehingga bukan hanya untuk pempek ikan rebus beku, juga untuk pempek kering, pempek goreng, dan pempek rebus biasa;
b. Bahan baku bukan hanya lumatan ikan, tapi juga kulit ikan, dan ikan segar utuh seperti teri.

2. Merubah standar acuan normative sesuai dengan perkembangan teknologi pengujian mikrobiologi terbaru dan acuan CAC untuk prinsip umum higien pangan dan kode praktis untuk ikan dan produk ikan;

3. Merubah parameter uji diantaranya
a. Mengurangi uji mikro menjadi hanya ALT (Angka Lempeng Total), Escherichia coli, Staphylococcus aureus;
b. Menambahkan kadar kandungan protein

Dari hasil diskusi di Rapat akan dikaji lagi untuk pengusulan
1. Penambahan parameter uji mikrobiologi Clostridium botulinum yang bersifat toksik, anaerob mampu bertahan di ruang hampa udara, terutama untuk pempek yang dikemas secara vakum;
2. Peningkatan pada parameter suhu pusat menjadi -20 0C karena terdapat bakteri patogenik jenis kelompok Psychrotrophic bacteria yang mampu bertahan di suhu -20 0C
3. Kedua parameter usulan tersebut akan dikaji termasuk mempertimbangkan keberadaan laboratorium pengujian

(KLT BSN Palembang)



Basni

Ada tanggapan lebih lanjut?

Lapor
Hotline 021 392-7422 Whatsapp 0813 802 2930
Email bsn@bsn.go.id E-Pengaduan SIPMAS

Klik LAPOR untuk Pengaduan Masyarakat