Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Kolektor Mainan Tak Lagi Terbentur Aturan

  • Senin, 05 Maret 2018
  • - -
  • 829 kali

 

JAKARTA - Kolektor mainan artion/jgwe kini dapat bemapas lega. Pemerintah telah melonggarkan aturan untuk membeli mainan dari luar negeri yang tak terlalu memberatkan, termasuk mengenai pengurusan perizinan Standar Nasional Indonesia (SND-

Riza Satyagraha, kolektor mainan action figure mengungkapkan, dua aturan baru yang dikeluarkan pemerintah di bawah Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian pada 22 Januari 2018 cukup memberikan keleluasaan kepada kolektor untuk membeli mainan dari luar negeri, tidak lebih dari lima buah mainan atau membeli dari media on/ine tidak lebih dari tiga mainan. Apalagi, mainan yang telah memenuhi syarat aturan pemerintah tersebut tidak perlu lagi mengurus perizinan di Kementerian Perindustrian untuk mendapatkan label SNI.

"Apa pun aturan yang diterapkan oleh pemerintah, tentu akan ditaati oleh kolektor. Namun, terkadang yang ditemukan di lapangan, para petugas yang bertugas  belum memahami sepenuhnya aturan tersebut. Ini yang kita harapkan bisa diatasi," ujar Riza kepada KORANSINDO.


Menurut Riza, seorang kolektor mainan tentu tidak akan keberatan membayar pajak sebesar 10% bila mainan yang dibawanya dari luar negeri lebih dari lima unit. Namun, dia berharap pemerintah dapat memberikan keringanan lain, seperti bebas pengurusan SNI, mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap mainan. Bahkan tak sedikit biaya SNI mencapai jutaan rupiah atau lebih mahal dari harga mainan yang dibelinya.

"Kami sebagai kolektor sangat mengharapkan pemerintah agar ikut dilibatkan dalam diskusi sehingga masukan kami dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Cara ini sekaligus dapat mewadahi para kolektor mainan, asosiasi dan penjual mainan impor, serta para pembuat regulasi, "ujarnya.

Direktur Industri Tekstil, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian Muhdori mengungkapkan, aturan yang baru direvisi beberapa waktu lalu diharapkan dapat menjadi kelonggaran tersendiri bagi kolektor. Hal itu dikarenakan kolektor mainan atau action figure tidak harus mengurus izin SNI bila mainan yang dibelinya telah sesuai dengan aturan yang ditetapkan.

"Jadi, semua kolektor harus memperhatikan harga yang tertera dalam aturan main wajib SNI. Bila memang barang koleksinya tidak melebihi USD500perorang, maka bawaan itu tak perlu dikenakan bea masuk atau mengurus label SNI," ungkapnya.

Menurut dia, mainan yang bisa dikoleksi akan dibedakan dengan mainan tertentu yang memang harus memiliki standar SNI. Saat ini, peraturan tersebut sedang disusun Kemenperin, dengan menyesuaikan standar ISO 8124 tahun 2014. Peraturan tersebut akan membuat aturan secara rinci apa yang dimaksud dengan mainan anak dibawah 14 tahun dan apa mainan yang termasuk dalam kate-gon mainan koleksi atau hobi.

"Untuk mainan elektrik, Kemenperin sudah berdiskusi dengan para kolektor mainan remote control, seperti mobil-mobilan, pesawat, helikopter, darufrOTie(aeromodeling),"tutur Muhdori.

Namun, khusus untuk mainan action figure seperti Gundam, Bandai, dan sejenisnya, sampai saat ini sedang diformulasikan secara spesifik agar dapat dibedakan antara mainan untuk kepentingan koleksi pribadi dan mainan yang bukan merupakan koleksi. Kemenperin, menurut Muhdori, masih terus melakukan pembahasan dengan asosiasi dan kelompok kolektor untuk mendefinisikan aturan tersebut lebih detail. Bahkan pihaknya meminta para komunitas kolektor untuk menyampaikan pandangannya langsung kepada Direktorat Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, penegasan untuk mendatangkan atau mengimpor mainan dalam jumlah yang sangat terbatas tidak perlu melakukan pengurusan SNI. Hal ini untuk memperhatikan beberapa pertimbangan, yakni industri dalam negeri yang tidak terdampak dengan kolektor yang membeli barang tersebut dalamjumlah sangat terbatas. Menurut Heru, petugas bea cukai juga akan melihat kondisi di lapangan jika temyata dalam satu barang terdapat beberapa mainan impor yang mencurigakan, seperti dalam jumlah yang cukup besar dan berbelanja se perti layaknya kolektor.


Sementara itu, Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas menyambut baik kesepakatan yang dibuat oleh para pejabat terkait. Menurut dia, aturan tersebut memberi rasa keadilan bagi pengusaha mainan ataupun kolektor.


"Pada zaman sekarang sudah banyak cara untuk berjualan, siapa yang mau ambil untung harus bayar bea masuk. Caranya kan sekarang banyak titip beli atau mereka ke pameran di luar negeri beli mainan, lalu ada yang nitip nanti dijual dengan harga tinggi, dan seterusnya," kataSutjiadi.

Kolektor mainan lainnya, Piwiqi Nur mengungkapkan, dirinya biasa meniup mainan dari beberapa teman yang sedang pelesiran ke luar negeri. Meski terkejut dengan peraturan Kementerian Perindustrian yang baru diterbitkan, dia tetap menoleransi bila masing-masing orang membawa maksimal lima barang dari luar ne-gen-Bagi Piwiqi, hobi menonton film membuatnya hobi un tuk mengumpulkan mainan dengan beragam karakter.

"Meski ada aturan pemerintah tentang batasan barang dari luar negeri, saya merasa tidak terganggu sama sekali dengan aturan tersebut karena secara pribadi saya lebih sering hunting action figure di dalam-negeri. Kalaupun membelidiluarnegeri melalui media online, biasanya hanya satu item, jadi tidak ter-ganggudenganaturan yangbaru diterbitkan itu," ujar Piwiqiyang merupakan kolektor urban toys dan diecast.

ananda nar arya

SUMBER : KORANSINDO, 3 Maret 2018



Basni

Ada tanggapan lebih lanjut?

Lapor
Hotline 021 392-7422 Whatsapp 0813 802 2930
Email bsn@bsn.go.id E-Pengaduan SIPMAS

Klik LAPOR untuk Pengaduan Masyarakat