detail

Kepala BSN: Standarisasi, Kata Kunci Untuk Daya Saing Bangsa

 

JAKARTA (Pos Sore) – Produk-produk luar negeri membanjiri Indonesia seiring semakin terbukanya perdagangan global. Tapi jangan lantas kita pesimis menghadapi gempuran produk-produk dari luar Indonesia ini. Justru, itu harus menjadi peluang tersendiri bagi Indonesia untuk bisa menguasai pasar, bahkan secara global.

 

Bagaimana caranya? Salah satunya ya dengan menerapkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) pada produk-produk karya anak bangsa. Dengan menerapkan SNI dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk yang dipilih sesuai dan layak dipakai, juga aman, nyaman, dan berkualitas. SNI menjadi salah satu instrumen penting dalam memenangi persaingan global.

 

Pada dasarnya memang tidak semua barang atau jasa wajib berlabel SNI. Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN) Prof. Dr. Bambang Prasetya, menjelaskan, SNI wajib diberlakukan pada hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan hidup dan atau pertimbangan ekonomis.

 

Setidaknya, ada beberapa barang yang wajib SNI antara lain mainan anak-anak, ban, semen, pupuk anorganik tunggal, air minum dalam kemasan, helm, komponen otomotif, kabel listrik, elektronika, logam, korek api gas, sepeda, meteran air, motor bakar, tangki air, kaca lembaran, keramik ubin, kloset, dan deterjen.

 

“SNI memang bersifat sukarela untuk ditetapkan oleh pelaku usaha. Namun, dalam hal SNI berkaitan dengan kepentingan keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan hidup dan/atau pertimbangan ekonomis, instansi teknis dapat memberlakukan secara wajib sebagian atau seluruh spesifikasi teknis dan atau parameter dalam SNI,” paparnya dalam suatu kesempatan diskusi bersama wartawan, di Jakarta, belum lama ini.

 

Di Indonesia, SNI menjadi satu-satunya instrumen yang memiliki kekuatan hukum mengikat dan berlaku secara nasional di wilayah hukum Republik Indonesia.

 

Menurut Bambang, standardisasi membuat peningkatan daya saing Indonesia menjadi lebih baik. Dikatakan, kata kunci untuk daya saing adalah standardisasi. Penerapan SNI menjadi salah satu strategi untuk meraih peluang sekaligus memenangkan persaingan pasar yang semakin ketat.

 

Ia menegaskan, peningkatan daya saing di era globalisasi dan regionalisasi perdagangan tidak dapat dihindari lagi. Pada dasarnya hanya bangsa yang berdaya sainglah yang akan mampu memperoleh manfaat yang besar untuk meningkatkan kesejahteraannya.

 

“Bangsa yang tidak mampu meningkatkan daya saingnya akan menjadi korban dan hanya menjadi penonton tanpa memperoleh keuntungan ekonomi dari segala potensi perdagangan global tersebut,” ujarnya.

 

Merasakan Manfaat SNI

Ashari, salah satu pelaku usaha yang merasakan benar manfaat SNI atas produknya. Mesin laundry hasil karyanya, Kanaba (Karya Anak Bantul), selain inovatif, juga bersertifikat SNI. Produk satu set mesin laundry yang terdiri dari mesin cuci, pengering, seterika, pemeras, dan steam boiler, ini kini sudah digunakan di laundry hotel, rumah sakit, maupun pengusaha jasa laundry.

 

Ashari mengatakan, kualitas mesin laundry Kanaba tidak kalah hebat dengan produk import meski harganya 30% lebih murah. Produk ini juga mengutamakan jaminan purna jual dan dilengkapi kemudahan dalam mendapatkan spare part mesin laundry yang selama ini menjadi kendala bagi konsumen.

 

Hebatnya, bahan-bahan produk karyanya berasal dari dalam negeri. Dalam memproduksi mesin laundry ini, Ashari juga melibatkan pemuda dan remaja kampung Padangan Sitimulyo Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Satu mesin pengering membutuhkan waktu pembuatan sekitar dua minggu. Proses dari persiapan bahan, perancangan, perakitan sampai finishing dikerjakan oleh tenaga tujuh orang.

 

Sejak hasil karyanya ini meraih sertifikat SNI, semakin memberikan keyakinan dan rasa aman bagi produknya untuk menembus pasar. Terlebih UD Harimukti Teknik juga meraih Penghargaan Rintisan Teknologi Industri 2016 untuk invensi mesin laundry untuk rumah sakit dan hotel dari Menteri Perindustrian.

 

“Keberadaan SNI sangat membantu kami dalam meningkatkan penjualan produk,” kata Ashari, yang mengaku awalnya tidak mengetahui penerapan SNI. Yang ia tahu, SNI itu ya helm. Temannyalah yang memperkenalkannya seputar SNI.

 

UD. Harimukti Teknik adalah satu satu UKM binaan BSN yang mampu membuktikan komitmennya dalam menjaga mutu dengan keberhasilan perusahaan meraih sertifikat SNI IEC 60335-1-2010; SNI IEC 60335-2-11:2012, ISO 10472-1:1997, serta ISO 10472-6:1997. (tety)

 

link: http://possore.com/2017/02/17/kepala-bsn-standarisasi-kata-kunci-untuk-daya-saing-bangsa/


Dilihat : 29