Umum

BSN Ajak PT Aktif Kembangkan Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian

Dalam rangka tindak lanjut kerjasama kegiatan pembinaan dan pengembangan standardisasi dan penilaian kesesuaian bersama perguruan tinggi (PT), Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Sinkronisasi Kegiatan Implementasi Kerjasama Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian pada Kamis (16/02/2017) di Ruang Komisi III, Gedung II BPPT, Jakarta.


Deputi Bidang Penelitian dan Kerjasama Standardisasi BSN I Nyoman Supriyatna memimpin langsung diskusi ini. Hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Utama BSN Puji Winarni, Kepala Pusat Kerjasama Standardisasi BSN Konny Sagala, Perwakilan Pusat-pusat terkait di lingkungan BSN, serta perwakilan PT mitra BSN dari berbagai daerah.

 



Nyoman dalam kesempatan ini mengatakan, BSN telah menjalin kerja sama dengan 44 PT di berbagai daerah di Indonesia. PT tersebut antara lain Universitas Muhammdiyah Surakarta (UMS), Universitas Tanjungpura Pontianak (UNTAN), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Sriwijaya (UNSRI), Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (UNSOED), Universitas Balikpapan (UNIBA), Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA), Universitas Sam Ratulangi Manado (UNSRAT), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sekolah Tinggi Manajemen (STIMA) IMMI Jakarta, Universitas Jember, serta Universitas Trisakti.


Kerja sama ini dituangkan dalam nota kesepakatan bersama di bidang pembinaan dan pengembangan standardisasi dan penilaian kesesuaian yang ditandatangani antara BSN dan PT.

 


Nyoman melanjutkan, kerja sama antara kedua belah pihak dapat diimplementasikan dalam berbagai program kegiatan. Seperti pengembangan materi ajar standardisasi, pengembangan e-learning standardisasi, perkuliahan standardisasi jarak jauh (teleconference / webconference), penyediaan SNI Corner, perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk unggulan daerah dan standar internasional, serta pendampingan UMKM daerah menerapkan SNI.


"BSN bekerja sama dengan BNPB dan UGM ikut mengusulkan SNI kita menjadi standar internasional ISO. Standar ini terkait landslide early warning system," terang Nyoman.


Oleh karena itu BSN mengajak PT agar aktif mengetahui kebutuhan standar atau SNI di daerahnya, yang selanjutnya dapat dikembangkan bersama BSN.

 


Melalui FGD ini, BSN dan perguruan tinggi akan merumuskan aksi nyata pengembangan dan pembinaan standar. "Langsung action ke program kegiatan. Saat ini BSN menerima masukan beberapa program dari perguruan tinggi," ujar Nyoman.


Diskusi pun berjalan sangat menarik. Para peserta menyampaikan saran dan masukan bagi keberlangsungan aksi bersama ini. Salah satu peserta, Mustaufik dari UNSOED menyampaikan, pihaknya mengusulkan untuk mengkaji ulang SNI gula palma. Standar ini perlu direviu karena SNI ini sudah dari tahun 1995.


Senada dengan Mustaufik, Radhian Krisnaputra dari UGM, menyampaikan bahwa BSN juga perlu mengembangkan lebih banyak standar produk kesehatan. Sebab, saat ini UGM juga tengah mengembangakan teknologi produk kesehatan. “Standardisasi di bidang medical belum begitu  banyak sehingga (kami) mengacu standar negara asing,” ujar Radhian. Karena keterbatasan standar tersebut, pihaknya mengaku kesulitan untuk men-SNI-kan produk hasil penelitian UGM tersebut. (ria-humas)


Dilihat : 282


BSN Launching SNI Corner Di UPS Tegal Indonesia Harus Manfaatkan Forum TFBC Untuk Kepentingan Nasional PERPANJANGAN WAKTU SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGGI MADYA DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL INDONESIA QUALITY EXPO 2017 HUT RI Ke - 72 Tahun, Indonesia Kerja Bersama